Abu Bakar Chang, Ahli Seni Kaligrafi Arab Dari China

abubakarchang (3)

Abu Bakar Chang tengah membuat karya kaligrafi di Sulaiman Resto, Jakarta Pusat. (foto: shodiq/si)

Abu Bakar Chang, lelaki asli China yang beragama Islam sejak lahirnya. Lahir di Kabupaten Dongxiang, Provinsi Gansu, China pada 36 tahun silam. Abu Bakar termasuk bagian dari Suku Hui, suku asli China yang beragama Islam.

Sejak kecil Abu Bakar Chang sudah dididik dengan bahasa Arab, membaca dan menulis Alquran. Pelajaran ini diperolehnya di Masjid-masjid di wilayah ia tinggal. Sejak usia 13 tahun ia telah tertarik untuk mempelajari seni kaligrafi. Praktis hingga kini selama 23 tahun ia menggeluti dunia kaligrafi. Tak heran bila ia kini sangat mahir membuat karya-karya seni kaligrafi.

Di Provinsi Gansu sendiri, masyarakat suku Hui ini mendapat perhatian yang cukup serius dari pemerintah setempat. Setiap kali ada delegasi kebudayaan, seni kaligrafi yang digeluti oleh masyarakat Muslim selalu dibawa serta. “Kami sudah banyak ikut pameran-pameran kaligrafi,” kata Abu Bakar Chang dalam bahasa China.

 

Kedatangannya dalam pameran kaligrafi Islam-Tionghoa di Restoran Sulaiman, Jl Batuceper No 73 Jakarta Pusat, Kamis 14 Agustus 2014 adalah pengalaman pertama kalinya menginjakkan kaki di Indonesia. Negara yang dikenal Abu Bakar Chang sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Ia mengaku sangat antusias mengunjungi Indonesia untuk mengenalkan seni kaligrafi Tiongkok.

Untuk bisa mempelajari kaligrafi, Abu Bakar mengaku hanya mengikuti petunjuk gurunya. Di wilayahnya tidak banyak dijumpai buku-buku berkaitan dengan seni kaligrafi. Karena itu ia bertekad suatu saat akan menerbitkan buku sendiri terkait seni kaligrafi.

Meski usianya masih relatif muda, di daerahnya, Abu Bakar Chang telah diberi amanah untuk menempati berbagai posisi jabatan. Ia merupakan staf peneliti karya seni tulis bahasa Arab-China, pengajar seni tulis suku Arab di Jurusan Seni New Dunhuang, Wakil Ketua Perkumpulan Ahli Waris Peninggalan Budaya Non Fisik Kota Yin Chuan.

Ahli penulis kaligrafi arab china

Didampingi Roy Wong, Abu Bakar Chang menjelaskan maksud karya kaligrafinya. (foto: shodiq/si)

Di dunia wirausaha, Abu Bakar Chang juga termasuk staf umum Ikatan Pengusaha Muslim Ning Xia, Ketua Pelaksana Karya Tulis Seni Tulis Suku Arab Provinsi Ning Xia dan jabatan lainnya.

Atas kiprahnya di dunia seni kaligrafi, Abu Bakar Chang telah banyak mengikuti berbagai pameran dan mendapatkan berbagai penghargaan. Pada Oktober 2012 lalu, Abu Bakar Chang terpilih untuk mewakili daerah otoritas Ning Xia untuk menghadiri Pekan Budaya China di Mao Li. Hasil karyanya termasuk yang disimpan oleh Menteri Kebudayaan Mao Li.

Pada Desember 2013, ia juga mewakili masyarakat Suku Hui di Ning Xia menghadiri pekan kebudayaan China di Jepang. Karya-karya dalam pameran tersebut di simpan di Pusat Kebudayaan Tokyo.

Berbagai media lokal dan internasional China telah mempublikasikan hasil karya Abu Bakar Chang. Seperti media Muslim Gan Su, Media muslim Ning Xia, Buku Puisi Muslim China, kora suku bangsa China serta internasional seperti Xin Hua, Web of China, China Broadcasting Web dan Ning Xia Web.

Comments: & Komentar

Tangerang, Pusat Komunitas Pelukis Kaligrafi Arab Indonesia Yang Mendunia

komunitas pelukis kaligrafi indonesia di tangerang

Stand Display Hasil Karya Komunitas Seniman Kaligrafi Tangerang

Citizen6, Tangerang: Tangerang memang memiliki banyak komunitas seniman kaligrafi yang cukup terkenal dan melegenda. Sebut saja Lembaga Kaligrafi Al-Quran (LEMKA) di Ciputat Tangerang Selatan, DIVANI Kaligrafi Islam Indonesia di BSD Serpong Tangerang Selatan, dan juga di Lengkong Ulama yang dikenal dengan nama “Kampung Kaligrafi“.  Kaligrafi Lengkongulama Pagedangan Tangerang Banten memang dikenal sebagai seni kaligrafi berkelas tinggi. Berbagai prestasi telah ditorehkan, seperti pemenang lomba Mushaf Alquran pada MTQ tingkat nasional maupun internasional. Karya-karya penulis kaligrafi Tangerang tersebut sudah banyak menghiasi dekorasi masjid-masjid besar Indonesia. Sebut saja lukisan kaligrafi di Masjid Istana, Masjid Hamzah Haz, Masjid Attin, Masjid Pesantren Darut Tauhid Bandung Pimpinan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), dan lainnya.

Hudri seorang pegiat Kaligrafi Lengkongulama, mengatakan pada HUT Kabupaten Tangerang ke-70 tanggal 27 Desember lalu pihaknya diberi kesempatan memamerkan produk kaligrafi di Kawasan Pemkab Tigaraksa. Karya-karya seni kaligrafi Lengkongulama juga sering menghiasi beberapa pameran, seperti Pameran Festival Hijau Sinar Mas, Peresmian Taman Makam Pahlawan Aria Wangsakara Lengkongkulon.

“Untuk kaligrafi pajangan kami memproduksinya di rumah-rumah penduduk. Maklumlah rata-rata masyarakat kampung kami memiliki keahlian seni Kaligrafi dari bakat secara turun-temurun. Sebagian warga Lengkongulama sendiri adalah keturunan Arab,” papar Hudri.

Perkembangan Kaligrafi, jelasnya,dipelopori oleh H Mahfut Arham dan Abdul Rojak. Disebutkan, banyak penulis kaligrafi nasional berguru kepada Mahfudnya baik untuk keperluan lomba maupun pembuatan pajangan. Selanjutnya dikenal beberapa nama yang memperkenalkan Seni Kaligrafi Lengkongulama ke dunia interasional.

“Seni Kaligrafi Lengkongulama mempertahan keasliannya dengan tidak menggunakan teknik komputer. Seluruh pengerjaan dilakukan dengan kaidah menulis ayat-ayat Alquran. Saat ini generasi muda di sekolah dan luar sekolah kami giatkan mempelajari kaligrafi dengan biaya gratis,” ujar Hudri.

Ciri khas Kaligrafi Lengkongulama, tambahnya, penulisan dilakukan dalam berbagai jenis. Mulai dari tahap pembuatan dasar, penulisan dan pewarnaan finishing. Hampir rata-rata penulisan kaligrafi dengan gaya murni. Namun ada juga yang dicampur dengan lukisan. Dulu dasarnya lukisan kaligrafi adalah kaca sekarang menggunakan kain, karton, atau tembok. Sedangkan untuk penulisan rata-rata dilakukan dengan cat tembok.

“Mengenai harga kaligrafi dari Rp 100 ribu sesuai bahan tehnik dan lama pengerjaannya. Rata-rata dikerjakan secara berkelompok dan paling lama selesai seminggu” pungkasnya. (kw)

Comments: & Komentar

Mendulang Rupiah Melalui Usaha Kerajinan Kaligrafi Islam

Darwito, pengusaha kaligrafi asal Semarang yang sukses meraup keuntungan

Darwito, salagsatu pengusaha kaligrafi asal Semarang yang sukses meraup keuntungan dari bisnis kerajinan kaligrafi

Bisnis seni kerajinan kaligrafi memang cukup menjanjikan, apalagi jika ditekuni dengan serius dan penuh kesabaran, tentu akan membuahkan keuntungan yang tidak bisa diremehkan. Potensi profit yang dihasilkan pun relatif tinggi, bahkan tak sedikit para pengusaha kerajinan kaligrafi yang sukses meraup income dari bisnis kaligrafi hingga ratusan juta Rupiah dan pembelinya pun datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Salah satu pengusaha kaligrafi yang sukses adalah Darwito asal Semarang Jawa Tengah.

Berawal dari keinginannya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan melafalkan ayat-ayat suci Alquran, Darwito perajin kaligrafi di Semarang ini memulai usahanya dengan melukis huruf-huruf  hijaiyah itu di atas kanvas dengan menggunakan cat minyak.  Beberapa hasil karyanya tersebut, kemudian diikutkan pameran kerajinan di Semarang tepatnya pada 2002.

Tak disangka, hasil karyanya banyak peminat sehingga pesananpun mengalir deras. Mulai dari dikerjakan sendiri dan kemudian mencari satu teman untuk membantunya memasang figura, usaha tersebut terus berkembang pesat hingga jumlah karyawannya kini mencapai 25 orang dan memiliki galeri.

 

Tidak hanya di Semarang, bapak tiga putera itu kini memiliki sejumlah cabang di berbagai kota di Indonesia seperti Selain itu, Bandung, Bogor, Makasar, Palembang, dan Batam.  Area pemasaran hasil karyanya tersebut juga semakin meluas hingga ke Kalimantan, Aceh dan bahkan diekspor ke Malaysia, Singapura, Uni Emirate Arab dan sejumlah negara Islam lainnya.

 

“Awalnya, pemasarannya hanya sekitar Semarang, kini lukisan kaligrafi ini dipasarkan hingga ke luar Jawa seperti Kalimantan, Sumatera, Aceh, bahkan menembus pasar luar negeri Malaysia, Singapura dan Arab,” katanya, kemarin.  Sedikitnya dalam waktu setahun, sekitar 1 kontainer berisi 3000 kaligrafi berbagai ukuran dia ekspor ke negara-negara tersebut.

 

Seiring permintaan pasar hasil karyanya itu kini semakin beragam, tak hanya menggunakan cat minyak,  cairan kuningan warna emas atau silver, tembaga, kayu dan pasir, medianyapun bisa menggunakan beludru untuk memperindah kaligrafi tersebut. Dia menuturkan konsumen lebih menyukai kerajinan seni kaligrafi yang berbahan dasar kanvas dan fiberglass untuk memberi efek tiga dimensi pada lukisannya, sedangkan warna-warna emas dipilih untuk kesan megahnya.
Dalam sebulan dia bisa memproduksi dan menjual sekitar 400-500 unit lukisan kaligrafi dengan berbagai model dan ukuran. Harganya pun bervariasi mulai dari Rp200.000-Rp10 juta.

 

“Bentuk lukisan yang harganya paling murah berupa kaligrafi tulisan Allah dan Muhammad, sedangkan yang termahal biasanya berbahan kuningan dengan ukuran 120 cm x 240 cm berupa replika pintu Kakbah,” tuturnya.

Pada saat Ramadan, kaligarfi karyanya mengalami peningkatan penjualan hingga 20 persen dibandingkan dengan bulan biasanya, harganya berkisar Rp150 juta-Rp200 juta. Ramadan tahun lalu Darwito bisa meraup omzet hingga Rp250 juta

 

Comments: & Komentar

Salma Arastu, Ahli Kaligrafi Wanita yang Cacat Sejak Lahir Kini Sukses di Amerika

Salma Arastu ahli kaligrafi yang sukses

Salma Arastu, kaligrafer wanita cacat dan muallaf namun sukses di Amerika

Salma Arastu, artis pembuat kartu-kartu ucapan selamat dan pelukis kaligrafi, sibuk memenuhi permintaan pelanggan dalam bulan Ramadan ini. Salma Arastu lahir di Rajasthan, India dari keluarga Hindu, membawa cacad lahir, dengan tangan kirinya tumbuh tanpa jari-jari. Kendatipun demikian, dia berhasil menyandang gelar Master di bidang seni lukis dari Universitas Maharaja Sayajirao di Baroda, negara bagian Gujarat. Salma kemudian memeluk agama Islam, melalui pernikahan dengan suaminya. Sambil memperdalam agamanya yang baru, dia mempelajari seni kaligrafi dan menggunakan kekayaan warna-warni dalam ekspresi seninya. Tak terasa, 30 tahun telah berlalu, karya-karya seni Islami yang dilahirkannya tak terhingga banyaknya.Dalam bulan Ramadan, warga Muslim Amerika saling mengucapkan “Ramadan Mubarak” kepada satu sama lain, dan saat ini, sudah mulai sibuk mencari-cari dan membeli kartu ucapan “Eid Mubarak” untuk dikirim kepada sanak-keluarga dan handai-tolan, baik di dalam negeri, maupun ke luar Amerika.

“Saya sungguh yakin, energi mengalir ke dalam diri saya dari hati sanubari, ke tangan-tangan saya, kemudian tertuang ke kanvas atau ke medium lain. Saya tidak pernah tahu saya dapat menjadi seniman, saya tidak menyadari kalau saya dapat berbuat begini banyak. Semua ini adalah berkah,” ujar Salma. Bermula dari keinginan mengasuh kedua anaknya sendiri, dan membantu menambah penghasilan suami, Salma memilih untuk tidak bekerja di luar rumah, setiba di Bethlehem, Pennsylvania, dari India, tahun 1987. Dia mendisain kartu-kartu ucapan selamat dan bekerjasama dengan bisnis percetakan setempat yang mencetak dan menjual karya-karya ciptaannya. 25 tahun telah berlalu, bisnis kartu dan lukisan Salma telah jauh berkembang. Kini, ia dan keluarga bermukim di kota Berkeley, negara bagian California, di mana Salma memiliki studio sendiri. Dengan anak-anaknya yang sekarang telah dewasa, ia lebih leluasa berkreasi. Apakah bisnisnya tetap lancar, sementara ekonomi Amerika beberapa tahun belakangan ini lesu, Salma menjawab: “Agaknya, memang sedikit menurun, tentu, tetapi masih saja banyak langganan saya, langganan tetap saya, dan setiap tahun, saya selalu mendapat langganan baru. Selama Ramadan, saya sangat sibuk, sepanjang hari, melayani telpon, menjawab email, memproses pesanan, mengepak, mengirim, dan sibuk ke sana-sini.”

kartu ucapan lebaran kaligrafi

Salahsatu karya Salma Arastu dalam bentuk kartu ucapan lebaran

Pindah ke Pantai Barat tujuh tahun lalu, karena pekerjaan suaminya, Salma dengan cepat pula beradaptasi dan kian mencintai tempat tinggalnya kini. Apakah besar komunitas Muslimnya? Salma bercerita dengan antusias: “Ada banyak penduduk Muslim di Berkley, San Francisco, Freemont, San Jose; amat banyak. Banyak pula pasar halal, masjid, dan . . . di Universitas Berkley ada Persatuan Mahasiswa Muslim, yang selama bulan Ramadan, menyediakan iftar (buka bersama gratis) bagi pengunjung setiap hari.” Menggabungkan spiritualitas dunia Timur dan teknik lukis Barat yang ditekuninya selama bertahun-tahun, karya seni Salma Arastu telah menerima banyak penghargaan. Dia telah mengadakan pameran keliling di banyak tempat, dan ratusan lukisannya telah menjadi koleksi pribadi di AS, Jerman, India, Iran dan negara-negara Arab. Dia memiliki dua situs tempat mengekspresikan karya seninya, yaitu www.salmaarastu.com dan www.yourtruegreetings.com. Ingin memesan kaligrafi spesial? silahkan hubungi kami di www.divanikaligrafi.com

[Sumber: http://www.voaindonesia.com/content/salma-arastu-ahli-kaligrafi-yang-sukses-di-as/1706030.html]

Comments: & Komentar

Seorang Jutawan Muslim Di Inggris Dihukum Karena Memasang Kaligrafi Islami Di Rumahnya

Kaligrafi di rumah Mahmood-Ali yang dituntut hukum

Tulisan Kaligrafi Laa ilaha illallah yang nampak indah terlihat dari jalan

Mahmood Ali, seorang jutawan muslim asal Inggris kini tengah berurusan dengan pengadilan usai pihak pemerintah kota memintanya menghapus ukiran kaligrafi Islami yang ia pasang di depan rumahnya bagian luar tepat menghadap ke jalan raya. Rumah Mahmood Ali terletak di daerah pemukiman mewah, dimana rumahnya yang besar tersebut dihiasi oleh dekorasi kaligrafi Islam berukuran besar di bagian teras dan berwarna hijau, sehingga terlihat mencolok. Kaligrafi bertuliskan “Lailaha illallah Muhammadur rasulullah” yang berarti “tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, dengan paduan warna hijau muda terukir indah di dinding eksterior rumahnya.

Menurut pihak pemerintah setempat, perintah untuk menghapus kalimat tauhid tersebut bukanlah karena alasan diskriminasi agama, melainkan karena larangan untuk memasang iklan yang telah ditetapkan di daerah tersebut. Segala bentuk tulisan ataupun simbol-simbol agama yang memiliki arti sebagai ekspresi keyakinan dianggap sama halnya seperti iklan, karena dinilai bisa mengganggu kenyamanan kota, sehingga harus segera dihapus. Sebelumnya, iklan McDonald dan Mark & Spencer juga telah diturunkan dari wilayah tersebut karena dianggap mengganggu pemandangan. Dan kalimat tauhid di depan rumah Mahmood Ali yang mencolok tersebut juga diminta dihilangkan dengan alasan yang sama.

Mahmood membela dirinya bahwa adalah haknya sebagai warga negara yang bebas untuk berbicara dan mengekspresikan diri termasuk memproklamirkan keislamannya lewat ukiran kaligrafi Islami. Dia berargumen bahwa tujuan dibuatkan kaligrafi di rumahnya itu hanyalah agar kediamannya itu mendapat keberkahan dari Allah, dan tidak ada sedikitpun terdapat arti yang mengandung unsur iklan atau promosi sebagaimana yang dituduhkan kepadanya.
Sementara itu para tetangga disekitar rumah Ali ada yang keberatan dan ada pula yang maklum dan tidak mempermasalahkannya. Misalnya, Beryl Morgan, (78 tahun) yang tinggal bertetanggaan dengan Ali mengatakan ; “Mungkin sah-sah saja jika membuat simbol relijius (kaligrafi Islami) di masjid, tapi menurut saya kurang tepat  jika kaligrafi tersebut dibuat di bangunan rumah. Itu sangat mengganggu pemandangan, saya tidak ingin melihatnya ketika saya melihat keluar jendela rumah saya setiap pagi”

Tulisan kaligrafi Lailaha illallah di rumah Mahmood Ali di Inggris

Tulisan kaligrafi Lailaha illallah di rumah Mahmood Ali di Inggris agar  mendapat berkah

Tapi menurut Joel Davies (25 tahun), “Saya sama sekali tidak keberatan, menurut saya dia seharusnya memiliki kebebasan untuk mengekspresikan agama pilihannya.  Tulisan kaligrafi tersebut sangatlah sesuai, berwarna hijau dan nampak indah pada dinding rumah tersebut. Menurut saya malah bisa menambah sedikit variasi warna di jalan, dan saya sama sekali tidak mengerti apa yang dipermasalahkan sesungguhnya.”

Bersyukurlah karena kita tinggal di negara mayoritas Muslim dan memberi kebebasan untuk mengkspresikan nilai-nilai agama melalui seni dekorasi. Yang kemudian harus dipertanyakan adalah, mengapa kaligrafi yang merupakan simbol relijius bisa dilarang, sementara pornografi, pornoaksi dan adegan kekerasan masih bebas berkembang di masyarakat? Wallahu a’lam!

 

Sumber: http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/9834299/Muslim-businessman-told-to-remove-sign-from-home-proclaiming-Allah-is-the-only-god.html

Comments: & Komentar

Lomba Kaligrafi Internasional Berhadiah Total Lebih Dari 1 Miliar

Organisasi Kerjasama Islam (OKI) melalui lembaga Pusat Penelitian Sejarah, Seni, dan Budaya Islam (IRCICA) menyelenggarakan Lomba Kaligrafi Internasional yang ke-9.

Lomba ini bertujuan untuk membangkitkan kembali dan mendorong pengembangan “kaligrafi Islam klasik”. Dengan kata lain, lomba ini bermaksud menantang para seniman kaligrafi Islam untuk menghasilkan karya, dalam kerangka semangat dan pakem tradisional, serta menjaganya dari tren yang bermunculan di luar prinsip-prinsip “kaligrafi Islam klasik”.

Upaya ini diharapkan dapat memberikan landasan bersama bagi para kaligrafer Muslim, untuk saling bertukar pengetahuan dan cara-cara pendekatan mereka, serta mendukung pengembangan suasana saling apresiasi terhadap cita rasa artistik Muslim di seluruh penjuru dunia.

Tak kurang ada 11 anggota Dewan Juri dalam perlombaan kaligrafi internasional ke-9 ini. Mereka ialah maestro kaligrafi dari berbagai negara seperti Mesir, Suriah, Maroko, Irak, Iran, Turki, Arab Saudi, dan Aljazair.

Terdapat 10 kategori dalam perlombaan ini, dibagi menurut gaya penulisan kaligrafi, yaitu: Jaly Thuluth, Thuluth, Naskh, Jaly Ta’liq, Ta’liq, Jaly Divani, Divani, Kufi, Riq’a, dan Maghribi.

Tersedia hadiah bagi 60 karya juara, dengan total hadiah 124,500.- dollar AS atau lebih dari 1 milyar rupiah. Hadiah paling kecil senilai 1.000 dollar AS dan paling besar 7.500 dollar AS. Pada penyelenggaraan sebelumnya, kaligrafer asal Indonesia, Nur Khamidiyah, menjadi satu-satunya peserta Non Timur-Tengah dan Eropa, yang masuk ke deretan pemenang dengan dianugerahi Juara ke-2 untuk Kategori Maghribi.

Peserta dapat mengirimkan maksimal hanya 1 karya kaligrafi untuk maksimal 2 kategori berbeda. Karya kaligrafi ditulis di atas kertas berukuran 40 x 60 cm. Karya di luar ukuran tadi akan otomatis didiskualifikasi.

Peserta diwajibkan mendaftar terlebih dahulu hingga tenggat tanggal 31 Oktober 2012. Untuk pengiriman karya, batas akhirnya hingga 28 Februari 2013. Selanjutnya pada April 2013 Dewan Juri akan melakukan penilaian, dan hasil perlombaan ini akan diumumkan pada Mei 2013.

Ide penyelenggaraan lomba ini pertama kali mencuat dalam “Deklarasi Istanbul untuk Kesenian Islam” yang iterbitkan dalam SImposium Internasional tentang “Prinsip-prinsip Umum, Bentuk-bentuk dan Tema-tema Kesenian Islam” yang diadakan oleh IRCICA pada April 1983. Para maestro dan pencinta kaligrafi yang menghadiri simposium itu membahas berbagai aspek tentang seni kaligrafi ini dan menekankan betul betapa kaligrafi berperan dalam mempersatukan cabang-cabang kesenian Islam. Mereka juga menyadari adanya kebutuhan dan manfaat dengan menyelenggarakan sebuah lomba kaligrafi.

Untuk penyelenggaraan tahun ini, Panitia mendedikasannya bagi kaligrafer Ekmeledin Ihsanoglu, yang kini memangku amanah sebagai Sekjen OKI. Ihsanoglu sendiri ialah pendiri IRCICA dan menjabat sebagai Diretktur Jenderal IRCICA sejak 1980 hingga 2004.

Pendedikasian itu disebut sebagai semangat mendorong seniman muda untuk menghargai teladan karya dari para maestro terdahulu, dan pada saat yang sama, juga untuk mengenang pencapaian para maestro itu. Secara berturut-turut lomba kaligrafi internasional ini untuk pertama kali pada tahun 1986 diedikasikan bagi Hamid al-Amidi  (1891 – 1982), tahun 1989 bagi Yaqut al-Mustasimi (wafat 1298), tahun 1992 bagi Ibn al-Bawwab (wafat 1022), tahun 1997 bagi Sheikh Hamdullah (1429 – 1520), tahun 2000 bagi Sayyid Ibrahim (1897 – 1994), tahun 2003 bagi Mir Imad al-Hasani (1554 – 1615), tahun 2006 bagi kaligrafer Iraq Hashim Muhammad al-Baghdadi (1917 – 1973) dan pada penyelenggaraan ke-8 tahun 2009 lalu didedikasikan bagi kaligrafer Suriah Muhammed Badawi al-Dirani (1894 – 1967).

Seluruh kegiatan terkait perlombaan dikoordinasikan oleh Sekretariat Lomba Internasional yang berada di Markas IRCICA, di bawah koordinasi Said Kasımoğlu yang beralamat di:

The International Calligraphy Competition Secretariat
Research Centre for Islamic History, Art and Culture (IRCICA)
Yıldız Sarayı, Seyir Köşkü, Barbaros Bulvarı, 34349 Beşiktaş-Istanbul, Turkey
Phone: +90212 259 1742, Fax: +90212 258 4365, e-mail: calligraphy@ircica.org

Keterangan selengkapnya termasuk formulir pendaftaran bisa diunduh di alamat berikut ini: http://www.ircica.org/content_images/english.pdf

Sumber: http://www.ircica.org/9th-international-calligraphy-competition-in-the-name-of-ekmeleddin-ihsanoglu/irc900.aspx

http://www.islamedia.web.id/2012/09/lomba-kaligrafi-internasional-hadiah.html

Comments: & Komentar

Mushaf Al-Quran Terindah di Dunia Ternyata Karya Kaligrafer Indonesia

mushaf istiqlal

Mushaf Itiqlal yang terdapat di Museum Bayt Al-Quran Taman Mini Indonesia Indah dengan desain yang sangat menakjubkan

Karya anak bangsa yang dikagumi dunia

Mushaf Istiqlal yang dibuat HM. Faiz Abdul Razaq diyakini banyak orang sebagai mushaf terindah di dunia. Bill Clinton sampai berhasrat menyaksikan langsung. Kerajaan Saudi Arabia pun mengundangnya ke istana untuk jamuan khusus para khattat. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Setiap anak pun mewarisi bakat orangtuanya. Begitulah bakat yang dimiliki Ustadz Faiz. Dirinya telah mewarisi bakat yang dimiliki abahnya. “Al ilmu nurun. Ilmu itu nurun, jadi bukan ilmu itu cahaya. Ayah saya kaligrafer otodidak, dan bakatnya menurun pada saya,” kelakar sulung dua belas bersaudara ini. Ustadz Faiz adalah seorang kaligrafer “emas” yang pernah dimiliki Indonesia. Dia dilahirkan di desa Lengkong Ulama Tangerang Prov. Banten pada 11 November 1938. Muhammad Faiz menekuni khat sejak usia dini. Dia Putra dari seorang pioneer khat di Indonesia, KH. M. Abdul Razzaq (alm). Dari beliaulah dirinya belajar. Sejak usia 15 tahun Faiz sudah membantu sang abah menulis kitab-kitab berbahasa Arab atau tulisan Arab bahasa Melayu, Sunda, Jawa dan Madura (tulisan pego/Melayu Arab).

Comments: & Komentar

Bagaimana Sejarah dan Asal Usul Kubah pada Masjid?

Banyak umat Islam maupun non muslim yang meyakini bahwa kubah (Inggris=dome) adalah warisan asli budaya Islam. Padahal itu adalah asumsi yang sangat keliru, karena kubah bukan hanya digunakan pada bangunan masjid, tapi juga gedung-gedung ataupun rumah ibadah non muslim juga. Konon, peradaban Mesopotamia lah yang pertamakali memperkenalkan dan menggunakan kubah pertama pada arsitektur bangunan mereka, diperkirakan sekitar 6000 tahun silam. Mesopotamia sendiri terletak di antara dua sungai besar, Eufrat dan Tigris. Daerah yang kini menjadi Republik Irak itu di zaman dahulu disebut Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti “(daerah)” di antara sungai-sungai”.

Mesopotamia dalam kilas sejarah

Namun ada pula yang menyatakan bahwa kubah mulai muncul pada masa imperium Romawi, sekitar tahun 100 M. Salah satu buktinya adalah bangunan Pantheon (kuil) di kota Roma yang dibangun Raja Hadria pada 118 M-128 M.

Comments: & Komentar

Mohamed Zakariya: Seni Kaligrafi Mengantarkannya pada Agama Islam

Mohamed Zakariya: Seni Kaligrafi Mengantarkannya pada Agama Islam

Mohamed Zakaria saat berkarya di studio pribadinya

REPUBLIKA.CO.ID,  Suatu hari, di bulan Ramadhan,  Pelabuhan Casablanca, Maroko riuh  dengan aktivitas pelayaran. Ada kapal yang melepas sauh, sebagian lain merapat. Sebuah kapal barang yang sudah uzur berbendera Yugoslavia  baru tiba di Casablanca setelah berlayar dari Amerika Serikat (AS).

Dalam kapal itulah Mohamed Zakariya  — yang kelak menjadi salah satu kaligrafer ternama  di dunia –   memulai perjalanannya mencari arti hidup yang hakiki.  Begitu menapakkan kakinya di negeri Maghribi itu, Zakariya yang waktu itu baru berusia 19 tahun, langsung tersirap atmosfer Ramadhan.

Begitu tiba di Maroko, ia melihat seorang lelaki tua berjubah dengan sorban kuning cerah sedang melintas di pelabuhan. ‘’ Seketika, Anda akan merasakan bahwa di sana semuanya sangat berbeda,’’ ujar Zakariya kepada sebuah majalah terbitan AS, beberapa waktu lalu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Comments: & Komentar